Deretan Masjid Tertua di Indonesia, Saksi Peradaban Islam Nusantara
![]() |
| Daftar masjid tertua di Indonesia (pexels/fajaks) |
Islam
telah menjadi bagian penting dari sejarah dan budaya Indonesia selama
berabad-abad. Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia,
jejak penyebaran Islam dapat ditemukan hampir di setiap sudut Nusantara.
Salah
satu bukti nyata dari proses islamisasi yang panjang adalah berdirinya
masjid-masjid tua yang masih kokoh berdiri hingga kini. Tidak hanya sebagai
tempat ibadah, masjid-masjid tersebut juga menjadi saksi perjalanan sejarah,
pusat pendidikan, hingga pusat penyebaran ajaran Islam.
Berikut
ini adalah deretan masjid tertua di Indonesia yang menyimpan kisah panjang
peradaban Islam di tanah air.
1. Masjid Agung Demak – Jawa Tengah
Didirikan: Sekitar abad ke-15
Pendiri: Wali Songo (terutama Sunan Kalijaga)
Masjid
Agung Demak dianggap sebagai masjid tertua di Indonesia yang berdiri sekitar
abad ke-15, tepatnya pada masa Kesultanan Demak. Masjid ini dipercaya dibangun
oleh Wali Songo, para tokoh penyebar Islam di tanah Jawa, dengan Sunan Kalijaga
sebagai arsitek utamanya.
Keunikan
masjid ini terletak pada arsitekturnya yang kental dengan nuansa lokal. Atapnya
bertingkat tiga menyerupai bentuk meru (atap candi Hindu-Buddha), yang
melambangkan iman, Islam, dan ihsan. Tiang utama atau “Soko Guru” terbuat dari
kayu jati yang konon merupakan gabungan dari potongan kayu sisa yang disatukan
oleh Sunan Kalijaga.
Selain
berfungsi sebagai tempat ibadah, Masjid Agung Demak juga menjadi pusat kegiatan
dakwah dan pemerintahan Kesultanan Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama
di Pulau Jawa.
2. Masjid Saka Tunggal – Banyumas, Jawa Tengah
Didirikan: Tahun 1288 M
Masjid
Saka Tunggal adalah salah satu masjid tertua di Indonesia bahkan didirikan
sebelum era Kesultanan Demak. Masjid ini terletak di Desa Cikakak, Kecamatan
Wangon, Banyumas. Nama “Saka Tunggal” berarti “satu tiang”, merujuk pada
satu-satunya tiang utama yang menopang bangunan masjid.
Masjid
ini menjadi bukti bahwa Islam sudah mulai dikenal masyarakat Jawa sebelum masa
penyebaran besar-besaran oleh Wali Songo. Arsitekturnya sangat sederhana dan
kental dengan nuansa lokal, bahkan di sekitar masjid masih terdapat kawasan
konservasi kera yang dianggap keramat oleh warga sekitar.
3. Masjid Al-Hilal Katangka – Gowa, Sulawesi Selatan
Didirikan: Tahun 1603 M
Pendiri: Sultan Alauddin dari Kerajaan Gowa
Masjid
Al-Hilal Katangka menjadi simbol masuknya Islam di wilayah timur Indonesia,
khususnya Sulawesi. Masjid ini dibangun pada masa Sultan Alauddin, raja pertama
Gowa yang memeluk Islam. Bangunan masjid yang terbuat dari batu bata tebal ini
dirancang layaknya benteng sebagai bentuk pertahanan dari serangan musuh.
Selain
itu, arsitektur masjid ini menggabungkan unsur lokal dan Timur Tengah, terlihat
dari bentuk menaranya yang unik dan ukiran-ukiran kayu bernuansa Islam. Hingga
kini, masjid ini masih aktif digunakan untuk ibadah dan menjadi salah satu
destinasi religi penting di Sulawesi Selatan.
4. Masjid Agung Banten – Banten
Didirikan: Tahun 1566 M
Pendiri: Sultan Maulana Hasanuddin
Masjid
Agung Banten merupakan ikon dari kejayaan Kesultanan Banten di masa lampau.
Didirikan oleh Sultan Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati, masjid ini
memadukan gaya arsitektur Jawa, Tionghoa, dan Eropa. Hal ini terlihat dari
bentuk atapnya yang bertingkat lima seperti pagoda serta menaranya yang
menyerupai mercusuar khas Belanda.
Fungsi
masjid ini tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat
pendidikan Islam dan pemerintahan. Di kompleksnya juga terdapat makam para
sultan Banten, menjadikannya lokasi ziarah yang ramai dikunjungi umat Islam
dari berbagai daerah.
5. Masjid Sultan Suriansyah – Banjarmasin, Kalimantan
Selatan
Didirikan: Sekitar abad ke-16
Pendiri: Sultan Suriansyah
Masjid
Sultan Suriansyah adalah masjid tertua di Pulau Kalimantan. Masjid ini dibangun
oleh Sultan Suriansyah, raja pertama Kesultanan Banjar yang memeluk Islam.
Arsitekturnya khas Banjar, terlihat dari atap tumpang dan ukiran kayu yang
indah.
Menariknya,
mihrab masjid ini terpisah dari bangunan utama—hal yang jarang ditemukan di
masjid-masjid lain di Indonesia. Hingga kini, masjid ini menjadi pusat kegiatan
keagamaan sekaligus situs sejarah yang dilindungi pemerintah.
6. Masjid Bayan Beleq – Lombok, Nusa Tenggara Barat
Didirikan: Sekitar abad ke-16
Masjid
Bayan Beleq merupakan masjid tertua di Pulau Lombok dan menjadi simbol awal
penyebaran Islam di tanah Sasak. Bangunannya sangat sederhana, terbuat dari
bambu, kayu, dan atap ijuk. Meskipun kecil, masjid ini memiliki nilai historis
dan spiritual yang sangat tinggi bagi masyarakat setempat.
Masjid
ini juga menjadi pusat kegiatan keagamaan pada perayaan adat tertentu, seperti
Maulid Nabi Muhammad SAW, di mana masyarakat sekitar akan berbondong-bondong
datang untuk berziarah.
7. Masjid Wapauwe – Maluku
Didirikan: Tahun 1414 M
Masjid
Wapauwe di Desa Kaitetu, Maluku Tengah, adalah masjid tertua di Indonesia
bagian timur. Dibangun sebelum masa Kesultanan Ternate dan Tidore berjaya,
masjid ini menjadi bukti awal masuknya Islam ke wilayah Maluku.
Keunikan
masjid ini adalah konstruksinya yang tidak menggunakan paku sama sekali,
melainkan pasak kayu. Selain itu, Masjid Wapauwe juga menyimpan manuskrip
Al-Qur’an tulisan tangan dan kitab-kitab kuno berusia ratusan tahun yang masih
terjaga hingga sekarang.
8. Masjid Indrapuri – Aceh Besar
Didirikan: Sekitar abad ke-17
Lokasi: Bekas kuil Hindu yang diislamkan
Masjid
Indrapuri merupakan salah satu masjid tertua di Sumatra. Menariknya, masjid ini
awalnya adalah kuil Hindu yang kemudian diubah menjadi masjid setelah Islam
masuk ke Aceh. Struktur bangunannya yang berbentuk persegi dan atap bertingkat
menunjukkan perpaduan antara budaya Hindu dan Islam.
Masjid
ini menjadi bukti proses akulturasi budaya dan penyebaran Islam yang damai di
Nusantara. Kini, Masjid Indrapuri masih berfungsi sebagai tempat ibadah
sekaligus cagar budaya yang dilindungi pemerintah.
Jejak Peradaban Islam dalam Arsitektur Nusantara
Keberadaan
masjid-masjid tertua ini menunjukkan bagaimana Islam menyebar secara damai dan
berakulturasi dengan budaya lokal. Dari arsitektur hingga tradisi yang
menyertainya, setiap masjid mencerminkan kekayaan sejarah dan kearifan
masyarakat setempat dalam menerima ajaran Islam.
Selain
sebagai tempat ibadah, masjid-masjid tersebut juga berperan sebagai pusat
pendidikan, pemerintahan, hingga ekonomi pada masa lalu. Mereka menjadi titik
awal berkembangnya peradaban Islam di Indonesia dan hingga kini masih berdiri
tegak sebagai simbol keteguhan iman sekaligus warisan budaya yang tak ternilai.
Masjid
bukan hanya tempat untuk bersujud, tetapi juga penyimpan jejak sejarah panjang
perjalanan Islam di Nusantara. Masjid Agung Demak, Masjid Wapauwe, hingga
Masjid Bayan Beleq, semuanya menjadi saksi bisu bagaimana Islam diterima dan
menyatu dengan kehidupan masyarakat Indonesia.
Melestarikan
dan menjaga masjid-masjid tua tersebut berarti kita juga turut merawat sejarah
bangsa. Di balik tembok-tembok tua dan arsitektur klasiknya, tersimpan
nilai-nilai perjuangan, toleransi, dan keagungan yang patut diwariskan kepada
generasi mendatang.

0 Response to "Deretan Masjid Tertua di Indonesia, Saksi Peradaban Islam Nusantara"
Post a Comment